Jiwa berada dalam kemelaratan
Dan tubuh berada dalam gelora
Setan memakannya sampai muntah
Hingga Jamshid tidak memiliki makanan apa-apa
Sembuhkan dirimu sendiri sekarang, sementara Isa-mu berada di bumi
Karena ketika ia telah diangkat ke surga
Penyembuhmu harus berpisah
(Dinukil dari karya Khaqani, Diwan, hlm. 10, bait 7 dan 16)

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. (Al-Falaq 113: 1-5)

Dan jika intelek berjuang dengan seluruh kemampuannya, namun tidak mampu memahami sesuatu, mengapa dia harus menghentikan usahanya? Apabila intelek menghentikan upaya karena tidak mencapai pemahaman, maka dia bukan intelek. Karena intelek selalu berusaha siang dan malam, tanpa istirahat, menyibukkan dirinya dengan pikiran untuk memahami sang Pencipta. Bahkan apabila Dia mustahil untuk dipahami dan dibayangkan sekalipun. Intelek itu seperti laron dan kekasih Ilahinya bagaikan lilin. Ketika laron menerbangkan dirinya menuju lilin, tak dapat dielakkan lagi dia terbakar dan hancur. Laron tentu tidak akan mampu menahan nyala lilin, tapi dia tidak peduli. Dia rela menderita terbakar dengan seluruh rasa sakit yang ia rasakan. Binatang apapun yang tidak mampu menahan nyala lilindan menerbangkan dirinya kepada nyala itu adalah “laron”. Dan lilin, tempat laron melemparkan diri padanya, tetapi tidak membakar laron, ia bukanlah “lilin”.
Maka manusia yang bertahan dalam ketidaktahuannya tentang Tuhan dan tidak berusaha dengan segala kemampuannya untuk memahami Tuhan, ia bukanlah manusia. Tuhan yang dapat dipahami seseorang bukanlah Tuhan. Manusia yang sejati tak akan pernah berhenti berusaha. Dia menunggu tiada henti di sekitar “cahaya” Tuhan yang mengagumkan. “Tuhan” adalah lilin yang “membakar” manusia dan terus menariknya agar lebih dekat. Tapi kedekatan itu tak terpahami oleh intelek. [77]